Tampilkan postingan dengan label pendapat. Tampilkan semua postingan

Laundry dan Hidup

Bagi yang kuliah di sekitar kampus, pasti tahu betul betapa menjamurnya usaha yang satu ini. Iya betul, apalagi kalau bukan laundry.  Di  setiap jalan besar, gang, tikungan, bahkan di jalan buntu sekalipun usaha ini muncul terus menerus bak koruptor. Uniknya, saya belum pernah melihat ada usaha laundry yang bangkrut, makin menjamur iya. Coba kita melihat lebih dekat, apa si yang dicari oleh para pengguna jasa laundry ini?

Surat Untuk Dokter Indonesia

Dear dokter indonesia..

Kami segelintir masyarakat indonesia yang sinis dengan dokter, ga ingin mendengar anda mengeluh
Anda itu pelayan masyarakat, pekerjaan mulia, penuh ketulusan. Benar, tapi kami ga akan menghargai itu. Karena Anda pelayan

Pria Sub Kultur Pahlawan

Air mata mengalir dari mata Vero, menandakan kesedihan dan frustasi yang mendalam disana. “Mengapa Kamu tidak bisa bersikap terbuka denganku?”, ungkapnya

Suaminya Eko, duduk di atas sofa hanya beberapa meter di depannya, menatap ke lantai dengan penuh perasaan tidak nyaman.

“Kita sudah menikah delapan tahun, Mas. Tapi aku merasa seperti menikahi orang asing. Aku sama sekali tidak mengenalmu”.

Kehidupan itu Sukar

Buku adalah jendela dunia. Jendela yang terlihat di barisan rapi toko entah ada di Mal atau sekedar ruko atau bahkan emperan jalan. Tersaji dengan indah dengan janji manis yang tercetak tebal, besar dengan tinta berwarna menarik mata, “It’s time to Change”, “It’s Your Time”, “Rahasia hidup bahagia”, “Ubah hidup Anda dalam Lima menit”. “Kiat” praktis mengubah hidup Anda dengan sangat cepat, jauh lebih cepat dari cara Anda menciptakannya. Jendela menarik yang menyajikan rumput yang hijau di tempat tetangga, atau rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau?

Cermin yang Retak


Putri salju bertanya pada cermin ajaib.

"Cermin, siapakah yang paling cantik di dunia?"

Cermin berkata,

“Putri saljulah yang paling cantik”

Suatu hari karena kesalahan pembantunya,

Cermin tersebut terjatuh dan rusak

Dunia yang Kotak


Topeng-topeng berkeliaran? Ego berkelahi di dalam diri? Tidakkah semua orang merasakannya?



Memakai peran serius saat kuliah, peran bercanda saat diluar, pintar saat di sekeliling orang pintar, pura-pura menyukai diri sendiri, suci saat dilihat orang, telah lama dia kehilangan dirinya yang sebenarnya karena mengikuti kata orang-orang berpengaruh di sekitarnya. Mengkotak-kotakkan perilakunya dan orang lain dalam kategori yang belum ada saat dunia selesai diciptakan, mengkotak-kotakkan dunia menjadi sederhana dan melewatkan dinamikanya yang menakjubkan. Mengkotak-kotakkan jiwa manusia yang unik, original, dan penuh gejolak hanya dengan dua kata: benar dan salah! Kudus dan Dosa..

Haus..

Penulis tidak punya ide dasar untuk menulis kali ini.
Hanya ingin mengungkapkan keruwetan pikiran.
Yang terlalu sulit untuk diekspresikan..

Entah sudah berapa lama manusia hidup.
Manusia hidup bersama alam, bersama jutaan spesies lainnya.

Manusia belajar dari alam, belajar dari jutaan spesies lainnya.
Sains dikembangkan dari alam, dari jutaan spesies lainnya.
Gedung-gedung yang tinggi, hukum-hukum fisika, biologi dan kimia..
semuanya berasal dari alam, dari jutaan spesies lainnya.

Dari sains yang diajarkan oleh alam dan jutaan spesies lainnya..
Sains juga yang dipakai manusia untuk menghancurkan alam, membunuh entah berapa banyak spesies yang menolong mereka..

Benar-Benar Benar


Aku sudah mencari kebenaran ini kemana-mana
Aku sudah melihatnya dari "buku kebenaran"
Aku tidak mungkin salah
Aku pasti benar
dan kamu yang salah"

Aku Harus Pintar "Kata Orang"


Dunia sekarang kejam, cari uang susah.. “kata orang”
Dunia sekarang jahat, kalo kamu terlalu jujur, kamu hancur.. “kata orang”
Kamu ga bisa percaya sama orang, sekarang zamannya serigala makan serigala.. “kata orang”
Kamu harus pintar, kalau tidak kamu tidak akan diterima.. kata orang

Kata orang..
Lagi-lagi kata orang..
Dan kita mengikuti “kata orang”
Membentuk sebuah generasi kata orang
Menciptakan sebuah negara kata orang
Menciptakan sebuah dunia kata orang

Lebih Baik Kamu Diam


Si Kuat berkata, kamu lemah diam saja
Yang berkuasa berkata, sudah jangan banyak tanya, diam saja
Pintar berkata, kamu pasti salah, sudah diam saja
Kaya berkata, kamu ga punya apa-apa, diam saja

Memberi itu sakit


Berawal dari keisengan teman yang tindakannya memungkinkan orang untuk mengintip
uang persembahan saya yang ada di dalam dompet yang saya sembunyikan di tas. Akhirnya karena buru-buru dan takut ketahuan, saya ambil saja asal2an tanpa tahu berapa jumlah uang yang saya ambil. Tragedipun terjadi, uang yang terambil jumlahnya cukup besar untuk ukuran anak kos. Dan "pemberian" sayapun menjadi terasa begitu "sakit".

Kemudian dalam beberapa detik ke depan saya mulai berpikir, ternyata benar ayat yang mengatakan di mana hartamu berada, di situ hatimu berada. Ilustrasi yang kemudian muncul adalah
janda miskin yang memberikan seluruh uangnya yang emang tinggal sedikit.Yang terpikir
bagi saya adalah, janda ini memberi dengan kesadaran, sedangkan saya memberi karna "terjebak"
ini perbedaan besar dari pemberian saya dana janda tua, mempercayakan harta pada Tuhan sepenuhnya, dan tetap percaya perlindungan Tuhan.

Kemudian teman saya yang "menjebak" saya ini untuk menghibur mengatakan "Tenang Jim, uangmu sekarang ada di tempat yang lebih baik". Kalimat yang begitu menyentak dan menghajar saya. Selama ini ketika ada seseorang yang memberikan "sesuatu" (baca: seluruh) bagian dari hidupnya bagi Tuhan selalu ada saja orang yang menganggap orang ini aneh. 


Memberikan masa muda bagi Tuhan misalnya. Pasti ada beberapa orang yang ketika kita melayani saat muda, mereka akan protes dan menganggap ini adalah kesalahan, seharusnya sejak muda kita mencari pengalaman, kemudian saat tua kita melayani Tuhan. Atau ketika pengusaha ingin menjadi hamba Tuhan, bisa dipastikan beberapa temannya akan menganggap orang ini aneh, karena meninggalkan lahan "subur" dan masuk ke ladang yang lebih "tandus". Abraham juga mendapat tanah yang relatif lebih tandus ketimbang Lot, namun bersama dengan Tuhan, abraham diberkati berlimpah2. Ketika kita memberikan uang bagi pekerjaan Tuhan, kita kelihatannya "kehilangan" namun sebenarnya uang itu ada di dalam tempat yang lebih baik, di Tangan TUHAN. Dan Tuhan tidak pernah berhutang, dia akan mengembalikan semua yang kita "berikan". Orang percaya tidak akan dibiarkan Tuhan meminta-minta.

Ketika parfum yang mahal ditumpahkan ke kaki Yesus,Yudas dengan segera mengambil kesimpulan yang sangat logis. Ini adalah pemborosan!! Pemberian yang mahal bagi TUHAN adalah pemborosam. Sedang uang untuk belanja yang kita inginkan adalah "kebutuhan".

Kasih kita terhadap sesuatu dapat diukur dari seberapa banyak kita bersedia mengeluarkan uang kita terhadap yang kita kasihi. Jika kita tidak berani memberi pada TUhan, bagaimana kasih kita terhadap Tuhan,mungkin kita perlu berbenah ulang dan melihat apakah kasih kita murni atau hanya ingin mengambil berkat Tuhan saja?